Kepastian yang Bimbang

1 Oct 2013

12053f848156cffe9416c313fd6396bd_img02565-20130807-0935-3

Angin mengipaskan gerahnya sebuah penantian, pada musim yang belum jua berlalu dari gersang yang mewabahkan rindu, ranting-ranting menggerutu dalam nyanyian sendu, menyaksikan daun-daun terlepas dari tangkainya, lalu tergolek lemah diatas tanah berserakan.

Musim bunga masih jauh menghiasi taman, dibangku lusuh yang dilalap waktu menjadikannya usang aku mematung, menatap penggalan kenangan yang meresahkan dada…

Matamu menatap ke arah menjauh melabuh kelana, meninggalkan jejak langkah yang tersapu debu jalanan, Punggungmu menghilang bersama senja yang minggat, meninggalkan sajak yang terbaca sumbang.

Merah jingga senjapun memahat perih, mematahkan hati seketika berkeping lara dan tak terlerai air mata berkejaran di ujung perpisahan, meski telah ku memohon jangan pergi, angin laut membawanya berlalu, melaju bersama nestapa yang merapat dikesunyian.

***

Kita menjadi asing dalam diam, dalam penggalan jarak yang tak terukur, meski ku dengar desis rindu merayu, namun daun-daun kembali sinis meracau, menguning satu demi satu lalu diterbangkan angin, menghujat luka, meneteskan kepastian yang bimbang setelah kau rampok jiwaku tanpa sisa.

Waktu membesarkan dendamku akan rindu, terlalu lama kita menunda usapi luka-luka kesepian, tumbang menganga aku tersakiti waktu, mencari sisa-sisa wajah mu dalam tumpukan kenangan yang ku kais-kais paksa.

Angan berbunga dalam harapan yang layu, menjemput air langit dalam penggalan doa-doa yang mengiba air mata, musim masih saja membatu tak jua berganti wajah, langit suram kehilangan senyuman hangat mentari, wujud mu berubah menjadi puing-puing kenangan, seperti helai-helai daun yang digiring angin, kenangan pun gugur dari tangkai tahun satu persatu.

Ku menunggangi musim dengan gelisah, meneguk embun yang tersisa diujung dahaga jiwa, kiranya bisa kau jawab tentang kepastian ini sejatinya ada, atau hanya sebatas mimpi lantaran aku terlalu lancang meminta?

e49299a8af9fdaef4cc8842f3ddedc88_daun-kering-2Aku kini memilih bersunyi, setelah lelahnya aku merajut sayap-sayap doa untuk meminang mu, namun sejurus wajah mu membias dalam kilas kenangan, lalu tenggelam seiring harap ku melemah dan tubuh ku melayang jatuh dalam kuburan daun-duan yang mengering. Perih…

Sungguh, ikrar janji tak bernyawa, seolah daun-daun yang remuk digilas roda… berdebu… menyeka mata berair… menghujam relung merintih, Sakit…


TAGS Kepastian yang bimbang daun pohon tanpa daun


-

Author

Search

Recent Post