Ketika persahabatan kami diuji

5 Jun 2013

Saya akan bertutur tentang salah satu kisah persahabatan saya…

Saya mengenalnya sebagai pribadi yang periang walau sedikit moodian, sangat menyukai musik dan doyan makan, tidak pintar renang namun tak menolak ikut berenang, sangat asyik diajak ngobrol, mulai dari yang serius hingga yang tak penting. Suka jalan~jalan dan mengabadikan setiap momment dengan berfoto.

Banyak kenangan dan keseruan yang kami lukis, banyak canda dan tawa yang kami rangkai, semua bergulir manis dan tak terlintas sepi jika sedang bersama dia.

Namun persahabatan kami tak berjalan mulus,

persahabatan kami akhirnya diuji…

Sebuah perselisihan berkecamuk, pertikaian kecil meruncing dan melebarkan jarak kami dalam tatapan mata yang tak lagi ramah, ucapanpun tak lagi manis, sikappun tak jua hangat dan kami saling menabur kebencian.

Saya dan juga dia masih dengan keangkuhan yang sama, membiarkan keegoan tersusun tinggi~tinggi, lalu kami sama~sama memajang murka diseantero jejaring sosial, kata~kata terangkai sinis penuh cibiran terlontar begitu mudahnya, kami sama~sama terhasut emosi dan terbakar amarah.

BBM didelcon (delete contact), No Handphone dihapus, Facebookpun lalu diblokir…

Kamunikasi binasa seketika…

Saya dan juga dia melangkah tanpa peduli satu sama lain lagi, dan saya tak mau ambil pusing dengan tingkahnya, saya mencoba menikmati hari~hari saya dengan sehabat~sahabat saya yang lain, tapi kehilangan dia dalam canda gurau yang tengah saya geluti membuat saya merasa tertawa namun terasa hambar. Dan jauh dikedalaman hati kecil saya, tak bisa dipungkiri dengan dalil kekecewaan sekalipun, kehilangan seorang sahabat seperti dia seperti ada sesuatu yang kosong dihati saya, seolah satu warna dalam pelangi hidup saya ada yang ikut raib.

Terlebih rasa rindu itu hadir, kala saya penginjakan kaki disuatu lokasi yang pernah saya dan dia datangi. Sepintas kenangan itu membayang. Memamerkan kembali kebersamaan kami dalam keseruan yang tak terganti.

Sempat sedih merapat dan bersandar dikalbu saya, sesal sempat bergulat didada saya, namun keegoan saya lebih membaja sehingga saya memutuskan tak bergeming untuk menyerah dan menyudahi perang dingin itu. Saya masih berpegang teguh, dia yang salah seharusnya dia yang minta maaf. Keangkuhan saya meraja, saya menampik suara hati kecil saya.

Waktu akhirnya bicara…

Berbulan-bulan perang dingin itu tak kunjung berkesudahan, dan disela waktu itu, saya seolah diberi waktu untuk merenungi semua yang telah terjadi, pantaskah kemurkaan ini saya pupuk dalam jiwa dan membiarkan nurani saya teracuni kebencian terus menerus?

Setelah bergulat dengan hati dan logika, saya menyadari betul, sikap kekanak-kanakan saya yang tak jua melunak tak pantas untuk diteruskan, saya akhirnya memutuskan untuk memaafkannya dalam hati saya.

Seiring waktu, kebencian dihati saya mulai melembut, kemarahanpun perlahan minggat menjauh, lalu yang ada saya merasakan kerinduaan yang teramat sangat untuk menikmati waktu bersama dengan dia, hati saya ingin menyemai canda dan tawa seperti dulu, dalam hangatnya rangkulan seorang sahabat yang karib.

Angan saya seolah diijabah oleh Allah… Mendadak dia menyapa saya lewat whatsapp, sebaris kalimat yang dia kirimkan sangat singkat,.. namun mampu menampar saya dengan keharuan.

Hai apa kabar?
Masih ingat saya?

Saya terdiam membaca chatting yang dia kirim berkali~kali, saya masih tak percaya dengan apa yang saya baca, foto profilenya meyakinkan saya itu dia sahabat saya, spontan jari saya membelas chattingan itu.

Masih ingat kok,
Kabar baik, kamu sendiri apa kabar?

Saya masih mencoba jaim selayaknya mengenal orang baru, namun setelah itu pembiracaraan bergulir santai seolah kami tak pernah punya masalah sebelumnya, kami bercanda dan menertawakan kebodohan kami yang saling memamerkan kemarahan saat itu. lalu kami menyepakati satu waktu untuk menggelar perjumpaan karena bagitu banyak cerita yang ingin dibagi, tak akan cukup puas hanya sebatas chatting.

Diujung minggu kemarin, tepat diawal Juni ini, saya dan dia akhirnya menggelar perjumpaan itu, kami mengobrol banyak hal, menuturkan banyak kisah, dan keasyikan tukar cerita membuat kami benar~benar lupa waktu, hingga kami tak menyadari jarum jam telah merapat mendekati pukul tiga pagi sejak jam tujuh malam dimulainya kami melepas kangen. namun rasanya tak ada perubahan sikapnya yang berbeda, dia masih dengan kepribadian sehangat dulu.

Kami akhirnya meninggalkan gelas-gelas kopi susu yang nyaris tanpa sisa diujung gelas, dan bersama kebekuan malam yang dingin, kami berlomba menjemput mimpi manis dalam balutan selimut persahabatan yang kian hangat.

***

Sahabat sejati akan selalu mudah memaafkan setiap jejak kesalahan yang ada…

karena sejatinya perselisihan hanyalah ujian kedewasaan,

Sehabat sejati tidak pernah mendendam…

Dan akan tetap merangkul sehangat senyuman mentari diwal pagi

c9762d904957f729aed0a83bf2a127b5_menyemai-cinta

Tulisan ini diikutsertakan untuk GA dalam rangka launching blog My Give Away Bunda Niken Kusumowardhani


TAGS Persahabatan sahabat menyemai rindu untuk sahabat


-

Author

Search

Recent Post